Tadabbur Surat Ash Shaff Ayat 4 – Jalan Hidup Orang-orang Tercinta

Bila ada kata yang menyakiti atau sikap yang melukai hati dalam sebuah hidup bersama, maka ingatlah cinta Allah yang begitu luas bagi yang berusaha bersabar dan mempertahankan kebersamaan itu.

Dalam kebersamaan, saat ada kata dan sikap yang melukai hati, ingatlah kalimat Ja’far bin Muhammad yang diriwayatkan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman: “Carilah 70 alasan untuk memaafkan saudaramu.”

Ingat pula apa jawaban Rasulullah saat ditanya, “Berapa kali kami harus memaafkan pelayan kami dalam sehari?”

Beliau menjawab, “Maafkanlah pelayanmu 70 kali dalam sehari.”

Bersabar dan memaafkan adalah tangga utama meraih cinta Allah itu.

Selain adanya usaha memantaskan diri agar siap berjuang di jalan Allah, juga harus siap berkorban untuk tetap berada dalam satu shaf barisan.

Padahal berada dalam satu barisan seakan-akan satu bangunan itu bukan hal yang mudah.

Konsekwensi Satu Barisan

Dalam satu barisan itu, harus siap menerima perintah dari pimpinan walaupun mungkin tidak sesuai keinginan dan harapan.

Harus siap untuk tidak terlihat, di saat desakan nafsu untuk unjuk diri begitu kuat.

Harus siap berlapang dada untuk diam dan berhenti menanti keputusan.

Dalam satu barisan itu, ada peraturan yang harus diikuti agar barisan itu tetap padu. Ada hati yang harus dijaga agar tidak tersakiti.

Ada kenyataan yang harus diterima, walau tak sesuai dengan idealita. Ada pintu maaf yang harus terbuka lebar, menahan diri dengan penuh sabar.

Dalam satu barisan itu, walaupun hati menahan perih, bibir mesti tetap tersenyum.

Walaupun batin bergemuruh, kepala harus tetap dingin dan kata-kata harus tetap teratur.

Kaki harus tetap melangkah, walaupun badan terkulai lemah, terus menapak dalam sepi melaksanakan semua tugas dengan penuh amanah.

Walaupun usia lebih tua, pendidikan lebih tinggi, pengalaman lebih luas, tetap harus tunduk untuk sebuah kebersamaan.

Semua itu adalah bagian dari dari konsekwensi pengorbanan agar dapat berdiri dalam satu barisan, tetap kokoh dalam satu bangunan.

Itulah jalan hidup orang-orang tercinta.
Mereka tenggelam dalam kesabaran, ketabahan, pemaafan, kekuatan tekad, dan kelapangan dada.

Harapan mereka hanya satu: menjaga kebersamaan agar barisan ini tidak bercerai berai dan tetap bertahan.

Semua itu mereka jalani dengan mudah karena mereka dipersatukan oleh kata “Fi Sabilihi” berada di jalan-Nya, yaitu di jalan Allah.

Selama berada di jalan mulia ini, maka segalanya menjadi ringan.

Ada keikhlasan dan ketulusan yang mewarnai. Ada kedekatan hati yang menyelimuti.

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash Shaff: 4)

Inilah yang disebutkan oleh Imam An Nasafi Tafsir Madârik At Tanzîl

﴿كَأنَّهم بُنْيانٌ مَرْصُوصٌ﴾ لاصِقٌ بَعْضُهُ بِبَعْضٍ، وقِيلَ: أُرِيدَ بِهِ اسْتِواءُ نِيّاتِهِمْ في حَرْبِ عَدُوِّهِمْ، حَتّى يَكُونُوا في اجْتِماعِ الكَلِمَةِ كالبُنْيانِ الَّذِي رُصَّ بَعْضُهُ إلى بَعْضٍ،

“Mereka bagaikan bangunan yang kokoh. Saling menempel satu sama lain. Niat mereka lurus dalam memerangi musuh. Kesatuan tekad mereka seperti bangunan yang melekat satu sama lain.”

Efek Cinta

Semua perjuangan hati itu tidak akan pernah sia-sia. Mereka mendapatkan cinta dari Allah.

Lalu apa efeknya kalau Allah sudah cinta?

Hasilnya adalah mereka hidup dalam limpahan kasih sayang persaudaraan, dalam lautan cinta Sang Maha Rahman.

Seperti dalam Hadits Qudsi, Allah menyebutkan:

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بَهَا وَلَئِنْ سَأَلَنِى عَبْدِى أَعْطَيْتُهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Apabila Aku mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakan hamba-Ku untuk mendengar, Aku adalah penglihatannya yang digunakan hamba-Ku untuk melihat, Aku adalah tangannya yang digunakan hamba-Ku untuk menangkap, dan Aku adalah kakinya yang digunakan hamba-Ku untuk berjalan, dan apabila hamba-Ku meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan memberinya dan apabila memohon perlidungan kepada-Ku maka !ku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

Allah memberinya taufiq dalam seluruh amal dan ucapan, pendengaran dan penglihatan mereka.

Allah mengabulkan permintaan dan harapan-harapan mereka.

Jika mereka meminta tolong, Allah akan menolong mereka, jika minta perlindungan kepada-Nya, maka Dia akan melindungi mereka.

Kelak maka mereka itu akan memiliki mimbar-mimbar dari cahaya, sebuah karunia besar yang bahkan tidak tidak didapatkan oleh para nabi dan syahid, sehingga para nabi dan para syahid menginginkan karunia itu.

Setelah semua karunia, masihkan ada derita hati terasa? Mungkin saja…

Tapi sebagian besar telah terkikis melihat orang lain bahagia dengan sedikit apa yang dilakukannya.

Bagi orang-orang tercinta, tak ada lagi pengorbanan. Yang ada adalah pengabdian.

=====
duakhalifah.com
Oleh: umarulfaruq.abubakar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *