Mempererat Ukhuwwah dan Mengokohkan Persatuan

Khutbah Idul Fitri, 1 Syawwal 1446H, di Masjid al-Hikmah Duren Sawit Jaktim,.

Dr. H. Anung Al Hamat, Lc.,M.Pd.[1]

إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله لا نبي ولا رسول بعده. نصلي ونسلم على حبيبنا ونبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين. أما بعد.

 فيا عباد الله أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله وطاعته فقد فاز المتقون. وقال تعالى: يا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وانتم مسلمون

TAKBIR 3x, laa ilaaha lllallaahu Allaahu Akbar, Allaahu Akbar walillaahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin, jama’ah shalat Iedul Fitri yang dimuliakan Allah SWT.

Alhamdulillah, kita panjatkan puji syukur kepada Allah yang telah memberikan kepada kita beragam nikmat dan beragam anugerah,. Sehingga kita telah diberi kemampuan untuk melaksanakan perintah-Nya selama sebulan penuh yaitu melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Dan telah menyatukan kita pada har ini di halaman Masjid ini dalam rangka melaksanakan salah satu sunnah nabi-Nya yaitu melaksanakan shalat Iedul Fitri.

Pada hari ini, umumnya kaum muslimin, semuanya bersatu padu, berkumpul di lapangan-lapangan atau di masjid-masjid, dalam rangka membesarkan Allah, mengagungkan Allah, mengesakan Allah, memuji dan bersyukur kepada Allah SWT (2: 185):

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, agar kalian bersyukur.

TAKBIR 3x, laa ilaaha lllallaahu Allaah Akbar, Allaahu Akbar walillaahil Hamd

Hadirin, jamaah shalat Iedul Fitri yang dimuliakan Allah SWT.

Hari ini, merupakan hari raya Idul Fitri, dan mulai hari ini kita masuk di awal bulan Syawwal. Ini artinya, mulai hari ini, bulan Ramadhan telah berlalu dari hadapan kita. Bulan yang penuh dengan beragam kemulian dan keutamaan kini telah meninggalkan kita.

Bulan yang digambarkan dalam banyak dalil sebagai bulan yang penuh dengan rahmat, adanya pembebasan dari api neraka, pintu-pintu Surga/pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, bulan yang di dalamnya ada 1 malam yang lebih baik daripada 1000 bulan (atau setara dg 83th, 4 bln), bulan yang penuh berkah dan maghfirah. Kini semua telah berlalu dari hadapan kita. Dan dengan berlalunya Ramadhan, maka lembaran-lembaran itu telah mencatat kita: Apakah kita termasuk ke dalam sosok yang mendapatkan ampunan Allah ataukah justru belum mendapatkan ampunan-Nya. Maka beruntunglah bagi mereka yang telah mendapatkan ampunan  dan rahmat Allah, karena Allah befirman (Yunus: 58):

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Dan Nabi SAW bersabda: “Celakalah orang yang bertemu dengan Ramadhan sementara dosanya belum diampuni Allah”. (HR. Thabrani).

Maka wajar jika ada ungkapan, al-‘iid liman thaa’atuhu taziid (hari raya itu sebenarnya diperuntukkan bagi mereka yang keta’atannya kepada Allah bertambah).

TAKBIR 3x, laa ilaaha lllallaahu Allaah Akbar, Allaahu Akbar walillaahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin, yang dimuliakan Allah SWT.

Tema yang kita angkat dalam kesempatan khutbah Iedul Fitri ini, ialah “Kita Eratkan Ukhuwwah dan Kokohkan Persatuan”. Hal ini dapat kita petik dari beragam fenomena dan amalan yang didalamnya mengandung unsur persaudaraan, kebersamaan dan persatuan. Seperti kekompakan dalam penetapan awal Ramadhan (dan akhir Ramadhan), shalat fardhu dan shalat sunnah Taraweh yang dilakukkan secara berjamaah, serta ibadah sosial seperti mengeluarkan Ziswaf. Kesemuanya itu merupakan simbol dari pentingnya persaudaraan, kebersamaan, keutuhan dan persatuan. Sehingga wajar jika adagium yang menyatakan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

Jika kita mentadabburi al-Quran, akan ditemukan beragam ayat yang memerintahkan kaum muslimin untuk senantiasa merawat pesaudaraan, persatuan dan kesatuan. Di antaranya firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”.

Bahkan Allah menjadikan kebersamaan dan persatuan itu merupakan salah satu faktor datangnya kemenangan. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam surat al-Anfal ayat 46:

وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ

Allah juga menyebut persaudaraan dan persatuan itu bagian dari nikmat yang paling besar yang Allah berikan kepada kaum beriman dalam kehidupan dunia. Sebagaimana disebutkan dalam Surat Ali Imran ayat 103:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dalam mengomentari ayat tersebut, Ibn Jarir berkata, “Maksudnya berpegang teguhlah dengan tali (agama) Allah yang telah diperintahan kepada kalian dan dengan janji-Nya yang telah disebutkan dalam kitab-Nya kepada kalian. Serta bersatu-padulah di atas kalimat-Nya”.

Sementara sahabat Ibn Mas’ud menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tali (agama) Allah ialah al-Jama’ah yaitu kebersamaan atau persatuan.

TAKBIR 3x, laa ilaaha lllallaahu Allaahu Akbar, Allaahu Akbar walillaahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin, jamaah yang dimuliakan Allah SWT.

Dan akan pentingnya kebersamaan dan persatuan ini, alam haadits riwayat Imam Tirmidzi, Nabi SAW juga bersabda:

عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة

Dalam riwayat lain, yaitu iwayat Imam Ahmad disebutkan:

الجماعة رحمة و الفرقة عذاب

Bahkan Nabi SAW juga menginformasikan bahwa diantara program unggulan Iblis la’natullah ‘alaih ialah menanamkan kebencian, permusuhan dan perpecahan diantara ummat manusia umumnya, dan khususnya antar Umat Islam.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya setan (iblis) telah berputus asa untuk disembah di Jazirah Arab. Maka yang dia lakukan ialah membenturkan antar mereka (agar terus berseteru dan bermusuhan)”. Dari hadits ini sangat jelas sekali bahwa permusuhan, perselisihan dan perpecahan sangat disukai iblis dan bagian dari program ungggulannya dalam menggelincirkan dan menyesatkan manusia. Sementara persaudaraan dan persatuan merupakan perkara yang dibenci olehnya. Wajar juga, jika Nabi SAW berpesan dalam penggalan sabdanya: “Wa kuunuu ‘ibaadallahi ikhwaanaa, Jadilah kalian hamba-hamba yang senantiasa bersaudara”. (HR. Muslim).

TAKBIR 3x, laa ilaaha lllallaahu Allaahu Akbar, Allaahu Akbar walillaahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin, jamaah yang dimuliakan Allah SWT.

Demikian juga, jika kita membaca perjalanan orang-orang shaleh terdahulu; sikap dan pendapat mereka akan pentingnya persatuan ini, niscaya kita akan mendapatkan betapa banyaknya buliran mutiara yang keluar dari mereka. Contohnya seperti dilakukan Imam Ahmad. Dimana beliau merevisi judul buku yang ditulis muridnya yang berjudul ‘fiqhul khilaf’ (Fikih Perselisihan). Lalu beliau menggantinya dengan ‘fiqhu as-Sa’ah’ (fikih yang bersifat luwes). Dengan dirubahnya judul buku tersebut beliau ingin menanamkan kesan dan pesan bahwa  Umat Islam itu merupakan umat yang suka dengan persatuan dan harus menghindari perselisihan, pertikaian dan perpecahan.

Juga Ibn Taimiyah yang menyatakan, “Para ulama terdahlu dari kalangan sahabat dan tabi’in, jika mereka berselisih maka mereka mengikuti perintah Allah (an-Nisa: 59). Mereka berdebat dalam sebuah permasalahan diiringi dengan musyawarah yang sehat dan nasehat yang bijak. Pendapat mereka dapat berbeda-beda dalam sebuah masalah, namun mereka tetap merawat persatuan dan menjaga ukhuwwah”. (Majmu’ Fatawa, 24/132).

Demikian juga dengan Imam  Suyuthi –salah seorang ulama besar dalam madzhab Syafi’i- melakukan hal yang sama. Dimana beliau menyatakan,“Seseorang yang mengambil pendapat ulama dalam perkara ijtihad, dan berbeda pendapatnya dengan ulama lain, maka tidak boleh dihujat hanya karena berbeda dengan pendapat ulama lainnya. Tidak boleh saling menghujat dalam perkara cabang (furu’). Dan yang boleh dihujat ialah orang yang menyelisihi ijma’ (perkara yang sudah disepakati dan merupakan perkara prinsip)”.

Dan yang tidak boleh dilupakan juga ialah apa yang dinyatakan Dr. M. Natsir –beliau merupakan salah satu pahlawan Nasional, pernah menjabat Menteri Penerangan dan Perdana Menteri pada masa Presiden Soekarno, serta pendiri dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII)-. Dimana beliau menyatakan, “Ada tiga faktor yang dapat mengembalikan ummat ini pada kejayaannya, yaitu:

  1. Kesadaran kolektif Umat Islam bahwa dirinya merupakan ummatan wasatha (umat terbaik).
  2. Jika Umat Islam sadar akan ketertinggalannya dan berusaha untuk memperbaikinya.
  3. Membangun ukhuwah dan mengeliminasi perselisihan/perbedaan.

Oleh sebab itu, energi umat Islam ini jangan sampai habis hanya karena perkara-perkara yang sepele dan bukan prinsip. Jangan sampai dihabiskan hanya dalam perkara-perkara yang sifatnya ijtihadi dan furu’. Jangan sampai kemudian saling hujat, saling bully dalam perkara-perkara yang para ulama shaleh terdahulu juga sudah terjadi perbedaan.

TAKBIR 3x, Laailaaha illallaahu Allaah Akbar, Allaahu Akbar walillaahil hamd

Hadirin, jama’ah shalat Iedul Fitri a’azzakumullah

Demikian, diantara hikmah yang dapat kita petik dengan berlalunya bulan Ramadhan dan hikmah dari hari Raya Iedul Fitri ini. Semoga Allah senantiasa menjaga barisan kaum muslimin dan menjauhkan mereka dari perselisihan dan perpecahan. Karena akhir dari persatuan itu ialah kebahagiaan dan kedamaian. Sementara akhir dari perpecahan ialah kehancuran dan kebinasaan. Semoga Allah  menerima amal kebaikan kita, mengampuni segenap kesalahan dan dosa-dosa kita, serta mempertemukan kembali dengan bulan Ramadhan selanjutnya dalam keadaan sehat dan penuh dengan keta’atan. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.

Di akhir khutbah, marilah sejenak kita menundukkan hati kita, untuk berdoa kepada Allah SWT. Mudah-mudahan do’a kita atau do’a di antara kita ada yang dikabulkan Allah SAW, aamin ya rabbal alamiin.

بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله رب العالمين. اللهم صل وسلم على النبي الكريم

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب دعوات

 اللهم أعز الاسلام والمسلمين وأذل الشرك والمشركين فانهم أعدائك وأعداء الدين

اللهم انصر من نصر المسلمين واخذل من خذل المسلمين. اللهم انصر المسلمين في فلسطين3x

اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا, وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا، وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا. واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير، واجعل الموت راحة لنا من كل شر. برحمتك يا ارحم الراحمين

 اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه

 ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم. والحمد لله رب العالمين والسلام عليكم ورحمه الله وبركاته

 

[1] Sekretaris Majelis Fatwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), periode tahun 2020-2025 dan Anggota pendiri Forum Da’i dan Muballigh Azhari Indonesia (Fordamai).

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *