Khutbah Idul Fitri : Peran Strategis Umat Islam dalam Membangun Peradaban

الحمد لله الذي ربانا على الشدائد والملاحم بالصيام، وجعلنا بالصبر واليقين أئمة الأنام، خصَّ  الله بالفضلِ والتَّشرِيفِ شهرَ رمضانَ، وأَنزلَ فيه القرآنَ هُدى للناسِ وبيِّناتٍ من الهدى والفُرقانِ.

أشهد أن لاإله إلاّ الله وحده لاشريك له لاشئ مثله ولاشئ يعجزه، قديم بلا إبتدأ دائم بلا نتهاء لايفنى ولا يبيد ولا يكون إلاّما يريد.

وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده مبشِّرًا ونذيرًا، وداعيًا إلى الله بإذنه وسراجًا منيرًا، قام الليل حتى تورَّمت قدماه، وقال: أفلا أكون عبدًا شكورًا … صلّى اللهُ عليه وعلَى آلِهِ وأصحابِهِ وسلّم تسليمًا كَثيرًا.

وقال تعالى: شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كانَ مَرِيضاً أَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلى مَا هَداكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة: 185).

وعنْ سعد بن أوسٍ الأنصاري عن أبيه رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا كان يوم عيد الفطر وقفت الملائكة على أبوابِ الطُّرق فنادوْا: اغدوا يا معشر المسلمين إلى ربِّ كريمٍ يمنُّ بالخير، ثمَّ يُثِيب عليه الجزيلَ لقدْ أمرْتُمْ بقيام الليل فقمتُمْ، وأمرْتم بصيام النَّهار فصمتمْ، وأطعتمْ ربِّكمْ فاقبضوا جوائزكم، فإذا صلوا نادى منادٍ: ألا إنَّ ربَّكمْ قد غفر لكمْ فارجعوا راشدين إلى رحالكمْ فهو يوم الجائزة ، ويُسمَّى ذلك اليوم في السماء يوم الجائزة.

رواه الطبراني في الكبير من رواية جابر الجعفي. وتقدَّم في الصِّيام ما يشهدُ له.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله هو الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

 

Hari ini kita hadir di sini setelah menuntaskan puasa tiga puluh hari. Semoga Pesantren Ramadan ini telah melahirkan kita menjadi manusia manusia yang fitrah yang bersih dan baru. Manusia-manusia yang selama puasa, taubatnya telah menyingkap tabir antara dirinya dengan langit, yang munajat-munajatnya telah mencurahkan rahmat Allah ke dalam dirinya, yang tilawah dan i’tikafnya telah membebaskannya dari ancaman api neraka.

 

Semoga Pesantren Ramadan ini telah melahirkan kita kembali menjadi manusia manusia baru; yang orientasi hidupnya meraih ridha Allah jelas tertancap dalam sanubarinya, yang peta jalannya menuju surga jelas terbayang dalam benaknya, sehingga kita termasuk yang di janjikan oleh Allah :

عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” للصائم فرحتان: فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه ” صحيح مسلم (2/ 807).

عن سهل رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال: ” إن في الجنة بابا يقال له الريان، يدخل منه الصائمون يوم القيامة، لا يدخل منه أحد غيرهم، يقال: أين الصائمون؟ فيقومون لا يدخل منه أحد غيرهم، فإذا دخلوا أغلق فلم يدخل منه أحد “

صحيح البخاري (3/ 25).

 

Kita sudah termasuk yang bahagia saat berbuka, mudah-mudahan kita juga yang termasuk diberi kebahagiaan saat masuk syurga dan bertemu dengan Allah Ta’ala. amiin.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Bapak dan Ibu yang saya hormati dan Allah Mulyakan…

 

Ketika kita bertakbir dg penuh bahagia di sini, ternyata ditepian dunia yang lain kesedihan masih mencengkram, di Gaza Palestina, berapa banyak saudara-saudara kita di sana yang berguguran, dan berapa ratus ribu yang terluka. Di Suriah, Irak, Yaman, dan Libya, berapakah jumlah saudara-saudara kita yang wafat karena dibunuh ?! Tidakkah kita semua menyaksikan bagaimana para pemimpin Islam di Bangladesh dihukum gantung satu persatu secara bergiliran? Tidakkah kita juga mendengar bagaimana bom telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Pakistan, Afghanistan, bahkan di Turki?

Tapi al hamdulillah, takbir masih menggema di Gaza Palestina, di tengah puing reruntuhan dan di kamp-kamp pengungsi Palestina, dan takbir pun masih terdengar walau mungkin sedikit sayup dari tenda-tenda pengungsian muslim Rohingya di Burma dan Negara Muslim Asean.

Semua itu telah melahirkan wajah dunia Islam yang carut marut, penuh darah dan air mata. Bahkan saya tidak tahu apakah kita yang hadir di sini punya hak untuk tersenyum apalagi tertawa di hari lebaran ini, sementara saudara-saudara kita di belahan bumi lain bersimbah darah dan air mata?

 

Dan tidakkah kita juga menyaksikan bagaimana orang-orang yang tidak mampu (miskin) dan tidak berpendidikan (bodoh) menjadi penduduk mayoritas di negara Islam? Bahkan saya tidak mengetahui apakah kita punya alasan untuk bergembira hari ini sementara saudara-saudara kita di belahan bumi lain tidak punya sesuatu yang bisa mereka makan dan bisa mereka pakai di hari lebaran ini? Itulah umat kita. Itulah dunia Islam kita. Kebodohan, kemiskinan dan perang adalah kosa kata yang memenuhi wajah kita. Seakan-akan misi agama ini membawa rahmat tak pernah hadir di tengah umat kita.

 

Tapi di hadapan kita juga ada fenomena lain. Dimana Peradaban yang sekarang menguasai dunia dengan system globalnya, juga sedang menuju keruntuhannya secara perlahan namun pasti. Sebab utama dari keruntuhan ini adalah kezaliman yang nyata, terutama dalam bidang politik, ekonomi dan sosial. Mereka menciptakan perang dan kemiskinan di mana-mana. Mereka menyedot kekayaan bangsa-bangsa lain dan menciptakan ketimpangan ekonomi sosial yang mengerikan secara global. Sekarang kezaliman itu telah sampai pada puncaknya. Dan Allah mulai memutar arah jarum sejarah.

 

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta’ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Israa’: 16)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Bapak dan Ibu yang saya hormati dan Allah Mulyakan…

 

Sekitar 1500 tahun lalu, seluruh muslim yang ikut dalam kafilah Haji Wada bersama Rasulullah saw pada tahun ke-10 Hijrah, hanya berjumlah 100.000 sampai 125.000 jiwa. Jumlah itu setara 1 per 1000 dari total penduduk bumi ketika itu, yang berjumlah sekitar 100 juta jiwa. Namun pada bulan Maret 2025 jumlah penduduk Muslim sekitar 2,04 milyar jiwa. dapat dikatakan bahwa setiap 100 tahun, atau 1 abad, jumlah umat Islam bertambah hampir sekitar 200 juta jiwa, atau sekitar 2 juta pertahun, atau sekitar 6000 orang setiap hari. Jadi sekitar 25% penghuni bumi ini adalah muslim.

Itu sungguh fakta sejarah yang luar biasa. Bahwa populasi pemeluk agama ini terus bertambah, di tengah upaya Islamophobia untuk menghancurkan agama ini dengan berbagai cara. Lihatlah bagaimana sejarah merekam dendam orang-orang Persia yang kalah berujung dengan pembunuhan Umar bin Khattab. Lihatlah bagaimana pasukan Tartar menghancurkan Bagdad pada abad V Hijrah. Lihatlah bagaimana pasukan Salib menduduki Palestina selama lebih 90 tahun. Dan lihatlah bagaimana Eropa kembali menjajah hampir seluruh Dunia Islam sejak abad ke 16 hingga pertengahan abad ke 20, termasuk Indonesia dan Aljazair yang dijajah lebih dari 125 tahun. Tapi agama ini terus bertumbuh dan berkembang. Pemeluknya terus bertambah tanpa henti.

Jadi di hadapan kita kini, ada dua fenomena sejarah. Ada umat Islam yang sakit, dililit kebodohan, kemiskinan, dan peperangan, tapi berusaha bangkit namun tertatih-tatih dan terseok-seok. Tapi juga ada peradaban besar yang kezalimannya kepada bangsa-bangsa lain dan kepada umat manusia kini menghantar mereka menuju keruntuhan. Ada umat yang bangkit melakukan perlawanan namun berdarah-darah. Ada peradaban yang sedang runtuh dan berusaha mempertahankan kedigdayaannya dan juga berdarah-darah. Kita seperti menyaksikan dua tangisan yang kontras. Ada tangis kelahiran, ada tangis kematian. Setiap bayi yang lahir selalu disertai air mata. Setiap orang yang mati juga dihantar dengan air mata.

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُداوِلُها بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَداءَ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada.” (Ali Imran: 140)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Bapak dan Ibu yang saya hormati dan Allah Mulyakan…

 

Bagi ummat Islam, Ramadhan adalah bulan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan bulan mujahadah (perjuangan). Dalam sejarah umat Islam yang membentang dari zaman Rasulullah saw hingga kini, banyak sekali prestasi ummat yang ditorehkan di pentas bulan suci ini. Mari kita ambil pelajaran berharga dari itu semua.

 

Apakah Bapak Ibu Masih ingat dengan perang Badar? Pertempuran Badar, terjadi 17 Ramadhan 2 Hijriyah. 14 sahabat nabi syahid di Badar, 70 musyrik tewas termasuk para pembesarnya, dan 70 musyrik lainnya ditawan oleh Rasulullah shallallahu alayhi wasallam. Tanpa kemenangan يوم الفرقان يوم التقى الجمعان itu, nama Islam, Rasulullah dan peradaban Madinah hanya tinggal namanya saja dalam dongeng sejarah, yang tidak pernah menerangi peradaban manusia sepanjang sejarah oleh cahaya Qur’an dan Sunnah.

 

Perang ini bisa kita katakan sebagai perang eksistensi, bila kaum muslimin menang, Islam tetap ada, dan sebaliknya bila bila kaum muslimin kalah, maka Islam hanya tinggal nama saja.

 

Kedua : Fathu Makkah (20 Ramadhan / 8 H)

 

10 tahun berdakwah di Mekah dg berbagai macam bentuk intimidasi, bahkan sampai kepada penghilangan nyawa, dan akhirnya terusir dari tanah kelahiran, Rasulullah saw dan para sahabat akhirnya kembali ke Mekkah dg kemenangan.

Namun yang paling tidak disangka oleh kaum kafir quraisy, bahkan oleh beberapa orang sahabat adalah pidato Rasulullah saw pada saat berhasil memasuki kota makkah dengan kemenangan:

 

هذا ليس يوم اليمامة، ولكن هذا يوم المرحمة، وأنتم طلقاء

“Hari ini bukan hari peperangan, melainkanhari kasih sayang, dan kalian semua di maafkan” inilah hari kasih sayang yg sesungguhnya yang membuat kafir quraisy berbondong bondong masuk Islam.

 

Selanjutnya, sejarah gemilang apa lagi yang terjadi di bulan Ramadhan?

Ya Perang Ain Jalut peristiwa bersejarah ini terjadi pada 25 Ramadhan 658 H

Peperangan antara Mamluk Mesir yang di pimpin Sultan Saifuddin Muzaffar al Quthuz,  menolak menyerah dari bangsa mongol yang dipimpin Hulagu Khan ketika itu dan bala tentaranya. Medan juang Ain jalut seperti mendapat hujan air merah, dari bercak darah manusia. Ratusan ribu tentara Mongol terbujur kaku dengan potongan-potongan tubuh yang tak utuh, termasuk sang Jendral Qitbuka Noyan dan keadilan untuk sementara waktu tegak dan pasukan yang tak pernah terkalahkan akhirnya takluk oleh pejuang Islam yang pemberani. Salah satu kunci kemenangan itu menurut Sejarawan George Zaidan, adalah Moral dan Spiritual.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

 

Sejarah telah membuktikan bahwa kemenangan ummat Islam dalam menumpas kezaliman selalu terjadi manakala Iman dan Islam membuncah di dalam dada kaum muslimin, meskipun secara jumlah personel, persenjataan, logistik, kekuatan ekonomi dan iptek umat Islam saat itu masih minim. Sebaliknya, kekalahan demi kekalahan umat Islam yang sangat memilukan dan menyakitkan terjadi manakala keimanan umat Islam lemah, jiwa kita rapuh, dan mental juang kita  keropos akibat satu penyakit mematikan, yaitu al-wahan: cinta dunia dan takut mati. Meskipun pada saat itu jumlah personel, kekuatan persenjataan, pasokan logistik, dan kekuatan ekonomi dan iptek umat Islam dalam kondisi yang prima.

Sebagai contoh ; lihatlah bagaimana kekuatan militer dan ekonomi kerajaan dan kekhalifahan Muslim tak sanggup menahan serangan tentara Salib pada tahun 1099 M, dan akhirnya gagal mempertahankan Kota Suci al-Quds atau Jerussalem. Lihatlah juga bagaimana peradaban Islam harus tumbang di Andalusia Spanyol pada tahun 1492 M, setelah gagah perkasa berkuasa lebih dari 7 abad lamanya. Tidakkah kita mendengar dan melihat bagaimana pada tanggal 5 Juni 1967 gerombolan Zionis berhasil merampok dan mengambil alih kesucian Masjid al-Aqsha, Baitul Maqdis, Bethlehem atau Jerussalem Timur. Hanya dalam waktu singkat, enam hari. Peristiwa memalukan itu dikenal sebagai Perang Enam Hari Arab-Israel.

 

Umat Islam dan Negara Arab saat itu tidak miskin amat, tidak bodoh amat, dan tidak juga terbelakang. Tapi penyebab utama kekalahan Bangsa Arab dan Islam ketika itu adalah karena elit politiknya mengidap penyakit wahan, Cinta dunia dan takut mati.

Maka ambillah pelajaran wahai ulul albab, jika kita ingin mendapatkan kembali izzah kemuliaan Islam dan muslimin, maka formulanya hanya satu: lakukan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) dan kembalikan manhaj Qur’an sebagai rujukan dan panglima dalam semua aspek kehidupan muslim. Maha Benar Allah ta’ala dalam firman-Nya ketika mengabarkan:

 

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (15) بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَياةَ الدُّنْيا (16) وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقى (17)

  1. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) 15. dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang 16. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi 17. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal

 

Maka siapkanlah diri  kita wahai umat Islam untuk kembali mengambil alih kepemimpinan dunia. Patrikanlah kembali semangat dakwah Mus’ab Bin Umaer yang mengislamkan Madinah. Patrikanlah kembali semangat penaklukan Khalid Bin Walid yang mengalahkan Romawi di Yarmuk. Patrikanlah kembali semangat penaklukan Saad Bin Abi Waqqas yang mengalahkan Persi di Qadisiyah. Patrikanlah kembali keagungan Umar Bin Khattab saat membebaskan Al Aqsha. Patrikanlah kembali semangat pertarungan Al Muzaffar Quthuz yang mengusir pasukan Tartar di Ain Jalut. Patrikanlah kembali semangat pembebasan Salahuddin Al Ayyubi yang mengusir pasukan Salib di Hittin. Patrikanlah kembali semangat pemimpin muda Muhammad Al Fatih yang membebaskan Konstantinopel pada umur 23 tahun. Semangat pembelaan, kerja keras dan perjuangan inilah ciri-ciri utama pada peradaban yang siap untuk memimpin.

 

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ (النور: 55)

 

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan ada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

 

الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله هو الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Mari kita gunakan segenap energi Ramadhan kita untuk memimpin perubahan di negeri kita. Mari kita benahi negeri kita setelah kita selesai membenahi diri kita sendiri selama bulan Ramadhan. Mari kita bawa ruh Ramadhan ke dalam pergulatan hidup sehari-hari yang nyata. Mari kita penuhi panggilan sejarah untuk memimpin perubahan di negeri tercinta ini. Mudah-mudahan setelah itu Allah berkenan mentakdirkan negeri ini memimpin perubahan ke seluruh dunia. Sebab sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai mereka sendiri yang merubah diri-diri mereka.

Maka mintalah kita kpd Allah Ta’ala agar di hidupkan hati kita dg Al Qur’an, diberi sikap kelembutan dan ketawadhuan Abu bakar As-shiddiq, di bangkitkan jiwa semangat dan ketegasan Umar bin khattab, di bangkitkan pada jiwa kita jihad Khalid ibn walid,  cemerlangkan pikiran kita spt kecerdasan Ali bin Abi thalib. Tumbuh suburkan empati kita spt Usman bin Affan, dan bangunlah jiwa kita dg sifat hikmah kebijaksanaan Abu Ubaidah bin al Jarrah Radiyallahu ‘anhum ajma’in…

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنا عَلَيْهِمْ بَرَكاتٍ مِنَ السَّماءِ وَالْأَرْضِ وَلكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْناهُمْ بِما كانُوا يَكْسِبُونَ (96)

“ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS: Al-A’raf 96)

 Nashrun minallah wa fathun qoriib.

 

DOA

 

Ditulis oleh : Dr. K.H. Roni Fajar Vergina Lc, MA

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *