Semangat yang Tak Pernah Padam di Tanah Para Syuhada

Oleh: H. Royhan Mubarok, Lc.

Semangat yang Tak Pernah Padam di Tanah Para Syuhada

Beberapa bulan terakhir, kabar dari Palestina kembali membuat dada sesak. Di tengah reruntuhan bangunan dan debu perang yang belum reda, Syaikh Basam—seorang pejuang berasal dari Palestina yang belum lama kembali dari wilayah tersebut—menuturkan kisah yang mengguncang nurani di Sekolah Master Depok.

Para tentara Israel hidup dalam ketakutan. Bukan karena serangan bersenjata, melainkan karena keberanian para pemuda Palestina yang tak pernah surut. Mereka berdiri di barisan terdepan, menjaga kehormatan Baitul Maqdis dengan semangat yang menyala, meski tubuh mereka terkepung penderitaan.

Ada aturan yang begitu menyesakkan: hanya mereka yang berusia sekitar 40 tahun ke atas yang diizinkan untuk melaksanakan salat di Baitul Maqdis. Bagi generasi muda, rumah suci itu seakan menjadi tempat impian yang hanya bisa mereka pandang dari kejauhan. Namun, larangan itu tak mampu memadamkan cinta mereka kepada tanah suci.

Kini, Palestina sedang berada dalam masa peralihan. Fasilitas umum mulai diperbaiki secara perlahan, meski perang belum sepenuhnya berhenti. Di tengah keterbatasan makanan, air, listrik, dan tempat tinggal, kehidupan di pengungsian tetap berdenyut. Anak-anak dan pemuda Palestina masih duduk bersila di bawah tenda, menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan.

Mereka sadar, pembangunan sejati dimulai dari kekuatan iman. Maka meskipun senjata musuh terus mengancam, mereka menyalakan obor peradaban dari ruang-ruang kecil pengajaran Al-Qur’an. Dari sanalah lahir harapan, bahwa kemerdekaan bukan sekadar mimpi—melainkan janji yang suatu saat pasti ditepati oleh Allah.

Semangat mereka seperti api yang tak pernah padam, menyala di antara puing-puing kehancuran. Dan dari Palestina, dunia kembali belajar, bahwa keteguhan hati jauh lebih kuat dari segala bentuk penjajahan.

“Tulisan ini disarikan dari penyampaian yang disampaikan oleh pejuang asal Palestina, Syaikh Bassam.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *