Dakwah harus membangun, bukan memecah

Oleh: H. Royhan Mubarok Lc, M.E
Anggota Badan Wakaf Sekolah Master Indonesia

Di Jakarta, Sebuah Majelis Dakwah Menghidupkan Kembali Etika Seruan Islam Global

JAKARTA — Di sebuah ruang Masjid at-Tanwir yang dipenuhi masyarakat sekitar, suara bahasa Arab klasik berpadu dengan terjemahan yang tenang namun tegas. Di tengah dunia Muslim yang menghadapi perubahan sosial cepat, kajian dakwah yang disampaikan oleh ulama Suriah terkemuka, Prof. Dr. Muhammad Abu Al-Fath Al-Bayanouni, menghadirkan sesuatu yang jarang ditemukan: refleksi mendalam tentang bagaimana dakwah Islam seharusnya dilakukan di era global.

Acara diterjemahkan secara langsung oleh Ustadz Fahmi Salim, Ketua Umum Forum Dai Muballigh Azhari Indonesia, yang memainkan peran penting menjembatani gagasan klasik Timur Tengah dengan realitas sosial Indonesia modern.

Dakwah Bukan Retorika, Tetapi Peradaban

Prof. Al-Bayanouni dikenal di dunia akademik Islam sebagai salah satu pakar metodologi dakwah kontemporer. Dalam kajiannya, ia tidak berbicara tentang strategi popularitas atau teknik komunikasi massa semata. Sebaliknya, ia mengajak audiens kembali pada fondasi spiritual dakwah: pembentukan manusia.

“Dakwah,” ungkapnya melalui terjemahan Fahmi Salim, “bukan sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi menghadirkan rahmat dalam cara menyampaikan kebenaran itu.”

Pesan tersebut terasa relevan di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan perdebatan agama di ruang digital. Alih-alih menekankan kemenangan argumen, Al-Bayanouni menekankan pentingnya hikmah, empati sosial, dan kedewasaan intelektual seorang dai.

Para peserta sebagian tampak mencatat. Beberapa di antara mereka adalah lulusan Timur Tengah yang kini menghadapi tantangan dakwah di masyarakat urban Indonesia—lingkungan yang menuntut pendekatan dialogis, bukan konfrontatif.

Peran Penerjemah sebagai Jembatan Peradaban

Di banyak forum internasional, penerjemah sering dianggap sekadar penyampai bahasa. Namun dalam kajian ini, Ustadz Fahmi Salim memainkan peran lebih luas: kurator makna.

Ia tidak hanya menerjemahkan kata demi kata, tetapi juga konteks—menjelaskan istilah Arab klasik dengan contoh sosial Indonesia, mulai dari dakwah media sosial hingga tantangan pluralitas masyarakat.

Pendekatan tersebut membuat kajian terasa hidup. Audiens tidak sekadar mendengar ceramah ulama Timur Tengah, tetapi merasakan dialog lintas peradaban Islam.

“Tradisi Azhar selalu mengajarkan moderasi,” ujar Fahmi dalam sesi diskusi. “Dakwah harus membangun, bukan memecah.”

Dakwah di Era Kecemasan Global

Kajian ini berlangsung pada masa ketika banyak masyarakat Muslim menghadapi pertanyaan mendasar: bagaimana mempertahankan identitas keagamaan tanpa terjebak eksklusivisme?

Al-Bayanouni menjawabnya dengan konsep dakwah berbasis akhlak. Seorang dai, menurutnya, harus terlebih dahulu menjadi teladan sosial sebelum menjadi orator publik.

Gagasan ini sejalan dengan perubahan generasi muda Muslim yang semakin kritis terhadap otoritas agama yang hanya bersifat formal. Mereka mencari figur yang autentik—yang hidup sesuai nilai yang disampaikan.

Indonesia sebagai Laboratorium Dakwah Dunia

Bagi Al-Bayanouni, Indonesia memiliki posisi strategis dalam masa depan dakwah global. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan tradisi keberagamaan yang relatif damai, Indonesia dilihat sebagai contoh bagaimana Islam dapat hadir sebagai kekuatan sosial yang inklusif.

Forum Dai Muballigh Azhari Indonesia sendiri lahir dari semangat tersebut: menghubungkan alumni Al-Azhar dengan kebutuhan dakwah nasional sekaligus wacana Islam internasional.

Kajian ini, meski berlangsung sederhana, mencerminkan perubahan yang lebih besar—bahwa pusat pembaruan pemikiran Islam tidak lagi hanya berada di Timur Tengah, tetapi juga tumbuh di Asia Tenggara.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *