Oleh: Rayhan Mubarok
Relawan Sekolah Master Indonesia
Refleksi Pendidikan dalam Buka Bersama Relawan Sekolah MASTER Indonesia
Catatan dari Penyampaian Dr. Adian Husaini
Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa dalam acara buka bersama Relawan Sekolah MASTER Indonesia. Di tengah hidangan sederhana dan wajah-wajah penuh harapan, hadir sebuah pesan yang lebih bermakna daripada sekadar pertemuan rutin Ramadan. Dalam kesempatan itu, Dr. Adian Husaini menyampaikan refleksi mendalam tentang arah pendidikan dan ukuran keberhasilan sebuah kampus.
Beliau memulai dengan sebuah kritik yang cukup tajam terhadap cara pandang dunia pendidikan saat ini. Menurutnya, banyak lembaga pendidikan—terutama perguruan tinggi—sering menilai keberhasilan kampus hanya dari di mana para alumninya bekerja. Apakah mereka masuk perusahaan besar, menjadi pejabat, atau memiliki posisi strategis di berbagai lembaga.
Padahal, menurut Dr. Adian Husaini, ukuran itu belum tentu mencerminkan keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya.
“Alangkah baiknya,” ujar beliau, “jika keberhasilan sebuah kampus juga dilihat dari bagaimana kehidupan sehari-hari para alumninya: apakah mereka menjaga salatnya, apakah mereka dikenal sebagai orang yang jujur, apakah mereka memiliki akhlak yang baik, dan apakah mereka memberi manfaat bagi masyarakat.”
Dalam pandangan beliau, pendidikan sejatinya bukan sekadar proses mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang berkarakter, beriman, dan beradab. Kampus tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral yang akan menjadi kompas hidup para alumninya.
Beliau juga menegaskan bahwa tradisi pendidikan dalam Islam sejak dahulu selalu menempatkan adab sebelum ilmu. Para ulama besar tidak hanya dihormati karena kecerdasannya, tetapi juga karena integritas dan akhlaknya. Dalam sejarah peradaban Islam, seorang murid tidak hanya ditanya apa yang ia ketahui, tetapi juga bagaimana ia menjalani kehidupannya.
Dr. Adian Husaini kemudian mengingatkan bahwa krisis yang banyak terjadi di masyarakat hari ini bukan semata-mata krisis kecerdasan, melainkan krisis karakter dan kejujuran. Banyak orang berpendidikan tinggi, tetapi masih terjerumus dalam korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan amanah.
Karena itu, beliau mengajak para relawan dan para pendidik di Sekolah MASTER Indonesia untuk terus menjaga ruh pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter. Menurutnya, lembaga pendidikan seperti Sekolah MASTER memiliki peran penting dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan keimanan, kejujuran, dan kepedulian sosial.
“Jika anak-anak dididik dengan ilmu yang benar dan akhlak yang kuat,” ungkap beliau, “maka mereka tidak hanya menjadi orang sukses, tetapi juga menjadi manusia yang membawa keberkahan bagi masyarakat.”
Di akhir penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa ukuran kesuksesan seorang manusia tidak selalu terlihat dari jabatan atau kekayaan yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain.
Pesan itu terasa sangat relevan bagi para relawan Sekolah MASTER Indonesia, yang sejak awal berdiri berjuang menghadirkan pendidikan bagi anak-anak yang kurang beruntung. Dalam kesederhanaan, mereka justru sedang menanam sesuatu yang jauh lebih besar: harapan lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi bagi bangsa.
Buka bersama malam itu pun terasa lebih dari sekadar pertemuan. Ia menjadi ruang perenungan bahwa pendidikan sejati adalah tentang membentuk manusia seutuhnya—cerdas pikirannya, bersih hatinya, dan lurus akhlaknya.


