
Tawakalnya seorang Mukmin (1)
Seorang sufi terkenal Ibrahim bin Adham (w.162 H) mempunyai seorang sahabat yang tak kalah zuhudnya dari beliau, Syaqiq al Balkhi (w.194 H) namanya, keseharian mereka tidak pernah lepas dari berpuasa, shalat, dzikir dan juga berniaga sebagai pemenuhan lahiriyah mereka.
Dalam suatu waktu Syaqiq al Balkhi berpamitan kepada sahabatnya tersebut untuk melakukan perjalanan niaga yang jarak tempuhnya sangat jauh dari tempat mereka tinggal, sehingga perbekalan pun di siapkan secukupnya.
Dalam setiap perjalanan Syaqiq tidak pernah lupa untuk menunaikan kewajiban layaknya seorang mukmin, bila waktu shalat tiba beliau berhenti dari kendaraannya kemudian shalat ditempat yang ia singgahi, terkadang di atas tanah atau bahkan di atas batu, namun tidak pernah lepas dari suasana khusu’ dan khidmat, rahimahullâhu ‘anhu.
Hingga tibalah di sebuah tempat penuh dengan rerumputan hijau, dan pepohonan yang menyejukkan mata, beliau berhenti untuk singgah dan menunaikan keperluannya.
Tanpa disengaja beliau melihat seekor burung kecil kurus dan buta sendiri di peraduannya, dalam hati beliau berucap:”dari manakah rezeki burung ini, sehingga sampai detik hari ini burung ini masih hidup ?!”
Tanpa disadari dan sedikit terkejut, tetiba datanglah seekor burung lainnya membawakan makanan lalu menyuapi burung buta tersebut, sampai kenyang …
sekali lagi beliau berucap dalam hatinya:”Maha Suci Allah yang telah membagi rezeki secara adil, sehingga setiap makhlukNya merasakan anugerah nikmatNya”.
Dengan rasa penasaran diamatinya burung tersebut berhari-hari lamanya, dan kejadian serupa pun terus berulang, yang menjadikannya semakin yakin bahwa rezeki itu sudah ada yang mengatur tanpa harus ada usaha dan kerja keras.
Akhirnya niat beliau untuk berniaga ketempat yang dituju pun beliau urungkan, dan beliau putar arah untuk kembali ketempat tinggalnya dan akan lebih fokus untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Yang Maha Pemberi Rezeki.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sebelum memasuki kampung halamannya, beliau bersua dengan sahabat karibnya Ibrahim bin Adham, dan beliau menceritakan apa yang beliau temui di sepanjang perjalanannya sehingga memutuskan untuk kembali dan berhenti berniaga.
Kaget bercampur heran, itulah yang dirasakan Ibrahim bin Adham, tatkala mendengar paparan sahabatnya tersebut, sambil menghela nafas dan mengernyitkan dahi beliau berusaha untuk tenang dan bersabar sampai sahabatnya tersebut menyelesaikan ceritanya.
Dengan wajah penuh keteduhan layaknya seorang alim dan sahabat yang mengingatkan, beliau elus pundak sahabatnya tersebut, dan beliau pun tersenyum dengan penuh rasa hormat, beliau berucap:
سبحان الله يا شقيق ! ولما رضيت لنفسك أن تكون الطائر الأعمى العاجز الذي ينتظر عون غيره، ولا تكون أنت الطائر الآخر الذي يسعى ويكدح ويعود بثمرة ذلك على من حوله من العمى والمقعودين ؟! أما علمت أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (اليد العليا خير من اليد السفلى) متفق عليه.
“Maha Suci Allah, wahai saudaraku Syaqiq, apakah engkau rido menjadi burung yang buta dan pesakitan yang selalu menunggu bantuan dari burung lainnya, apabila dia datang maka dia akan makan dan bila tidak dia akan mati kelaparan, kenapa wahai saudaraku ?! apakah engkau tidak ingin dan rido memilih menjadi burung yang satunya lagi, dia terbang bebas dan sehat, tidak terbelenggu dengan apapun dan dia bisa menjemput rezeki kapan pun dan dimana pun, kemudian memberikannya kepada siapapun yang dia mau, dan apakah engkau tidak ingat wahai saudaraku dengan nasehat Nabi kita, bahwa : (Tangan di atas itu jauh lebih baik dari tangan di bawah).
Mendengar nasihat dari sahabat karibnya tersebut, Syaqiq al Balkhi kemudian berdiri memeluk, mencium dahi dan tangan sahabatnya tersebut, seraya menitikkan air mata beliau berucap dg penuh rasa haru:”engkau adalah guruku, penasihatku dan sahabat yang selalu menuntunku kearah yang lebih baik, semoga Allah memperbanyak orang sepertimu wahai sahabatku”. end
Dikutip dari: (qût al-qulûb li Abi Tâlib almakiy( (2/16)
Dari sepenggal kisah di atas kita bisa memetik sebuah hikmah, bahwasannya tawakal adalah gabungan dari doa dan ikhtiar, satu dan lainnya saling melengkapi, ibarat seekor burung dia tidak bisa terbang dengan sempurna kecuali kedua sayapnya sehat dan berfungsi. Seorang alim fiqh, hadis dan juga seorang yang zuhud, Imam Sufyan at Tsaury (w.161 H) pernah berkata:
(العالم إذا لم تكن له معيشة صار وكيلا للظلمة ، والعابد إذا لم تكن له معيشة أكل بدينه ، والجاهل إذا لم تكن له معيشة صار وكيلا للفساق)
“seorang yg berilmu tapi tidak punya pekerjaan maka dia akan menjadi wakil/pemimpin bagi kedzaliman, seorang ahli ibadah bila ia tdk punya penghasilan yang jelas maka ia akan menggunakan agamanya untuk menipu orang lain, dan orang yang bodoh bilamana dia tidak tercukupi kebutuhannya maka ia akan menjadi pemimpin bagi orang-orang fasiq/pendosa).
Seorang Ulama pernah berkata:
الرزق مقسوم ، والأجل معلوم ، فلا يملك أحد أن ينقص من رزقهم مثقال حبة ، ولا أن يقدم أجلهم مقدار لحظة
“rizki seseorang sdh ada bagiannya, dan kematiannya pun sdh ada ketentuannya, maka tdk ada seorangpun yg bisa mengurangi rizki makhluk lainnya, begitu jg tdk ada yg bisa menjemput ajalnya lebih cepat.
Semoga kita semua digolongkan menjadi hamba Allah yang benar-benar bertawakal kepadaNya. Semoga bermanfaat … Amiiin
Legenda, 20 April 2025
Penulis: Roni Fajar V, Lc, MA
Ig/Fb/Youtube/Tiktok : roni fajar v
Email: egypt.mekkah19@gmail.com


