Di Sebuah Ruang Rapat di Universitas La Tansa Mashiro, Sebuah Gagasan Besar tentang Pendidikan Dimulai dari Silaturahmi

Di Sebuah Ruang Rapat di Universitas La Tansa Mashiro, Sebuah Gagasan Besar tentang Pendidikan Dimulai dari Silaturahmi

Lebak — Di tengah berbagai tantangan pembiayaan pendidikan di Indonesia, perubahan sering kali tidak lahir dari ruang-ruang yang megah atau forum yang dipenuhi sorotan. Ia justru bermula dari sebuah meja rapat, percakapan yang sederhana, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah amanah yang harus dijaga bersama.

Semangat itulah yang mewarnai pertemuan antara jajaran Universitas La Tansa Mashiro (UNILAM) dan Sekolah Master Indonesia. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk membangun kolaborasi yang lebih luas dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Rektor Universitas La Tansa Mashiro (UNILAM), Dr. K.H. Soleh, M.M., menekankan bahwa lembaga pendidikan tidak dapat berjalan dengan pendekatan yang statis. Menurutnya, perubahan sosial menuntut setiap institusi untuk terus beradaptasi agar tetap mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Lembaga harus menyesuaikan keadaan masyarakat. Pendidikan akan tetap relevan apabila mampu memahami kebutuhan zaman dan menghadirkan solusi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya diukur dari kekuatan akademiknya, tetapi juga dari kemampuannya membaca dinamika sosial dan menghadirkan pelayanan yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan umat.

Hal senada disampaikan oleh H. Royhan Mubarok, Lc., M.E., anggota Badan Wakaf Sekolah Master Indonesia. Baginya, setiap ikhtiar yang dilakukan dengan niat membangun pendidikan pada akhirnya akan mempertemukan orang-orang yang memiliki visi yang sama.

“Pada akhirnya kita akan dipertemukan dengan orang-orang hebat seperti Dr. Ahmad Zulfi Ali Dawas, Dr. Ade Miftahul Irfan, dan rekan-rekan yang memiliki kesamaan perjuangan untuk memberikan akses pendidikan kepada khalayak luas,” ungkap Royhan.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat, kedua belah pihak membahas berbagai peluang sinergi, mulai dari pengembangan pendidikan tinggi, dan penguatan dakwah berbasis masyarakat. Gagasan ini menjadi semakin relevan ketika banyak lembaga pendidikan menghadapi tantangan pembiayaan, sementara kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan berkualitas terus meningkat.

Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, pertemuan seperti ini mengingatkan bahwa masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan lembaga untuk beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat serta membangun kolaborasi demi menghadirkan kesempatan belajar yang lebih luas bagi setiap anak bangsa.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *