Iran, Palestina, dan Ilusi “Benteng Pembela Terakhir”
Oleh: Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institute
Di era media sosial, perang tidak hanya terjadi di langit Gaza atau perairan Teluk. Ia juga meledak di timeline. Setiap rudal melahirkan opini. Setiap ledakan memicu polarisasi. Dan di tengah hiruk pikuk itu, muncul satu narasi yang semakin menguat: Iran adalah benteng terakhir pembela Palestina.
Narasi ini terdengar sederhana, bahkan heroik. Tetapi justru karena kesederhanaannya, ia berbahaya.
Sebab realitas tidak pernah sesederhana slogan.
Kita perlu mulai dari fakta yang sering diabaikan: Iran memang berdiri di garis depan retorika anti-Israel sejak Revolusi Iran 1979. Sejak saat itu, Teheran membangun identitas sebagai musuh utama Amerika Serikat dan Israel, sembari mengangkat Palestina sebagai simbol perlawanan global.
Simbol itu tidak main-main. Iran bahkan menginstitusionalisasikannya melalui Hari Al-Quds Internasional—sebuah upaya mengubah Palestina dari isu Arab menjadi isu umat Islam sedunia.
Dan di titik ini, Iran membaca momentum dengan sangat cermat.
Ketika dunia Arab mulai mundur—dari Perjanjian Camp David hingga Abraham Accords—terjadi kekosongan kepemimpinan dalam isu Palestina. Negara-negara yang dulu berada di garis depan perlahan memilih jalur diplomasi, bahkan normalisasi.
Di ruang kosong itulah Iran masuk.
Bukan hanya dengan pidato, tetapi dengan strategi.
Iran tidak melawan Israel seperti negara konvensional. Ia tidak mengirim tank melintasi perbatasan. Ia membangun jaringan.
Dari Hezbollah di Lebanon, kelompok di Gaza, hingga milisi di Irak dan Yaman, Iran menciptakan apa yang disebut sebagai “poros perlawanan”. Ini bukan sekadar aliansi ideologis, melainkan sistem kekuatan yang memungkinkan Iran menekan musuh dari berbagai arah tanpa harus berperang langsung.
Strategi ini cerdas. Efektif. Dan sangat modern.
Namun di sinilah kita harus jujur: strategi ini bukan sekadar tentang Palestina.
Ia adalah tentang kekuasaan.
Bukti paling jelas datang dari tempat yang jarang dibahas oleh para penggemar narasi heroik: Suriah.
Di sana, Iran berdiri tegak di belakang rezim yang dituduh menewaskan ratusan ribu rakyatnya sendiri. Intervensi militer dilakukan bukan untuk Palestina, bukan untuk Al-Aqsa, tetapi untuk menjaga jalur pengaruh strategis dari Teheran ke Beirut.
Suriah membuka tabir yang selama ini ditutup rapat:
Bahwa di balik narasi perlawanan, ada kepentingan geopolitik yang sangat konkret.
Dan sering kali, kepentingan itu lebih dominan daripada solidaritas umat.
Apakah ini berarti Iran tidak membela Palestina?
Tidak sesederhana itu.
Iran memang memberikan dukungan nyata—senjata, dana, pelatihan—kepada kelompok perlawanan di Gaza. Tanpa itu, peta kekuatan mungkin akan berbeda.
Namun bantuan itu juga memiliki fungsi lain: menjaga tekanan terhadap Israel, memperluas pengaruh regional, dan memperkuat posisi Iran dalam percaturan global.
Dengan kata lain, Palestina adalah dua hal sekaligus:
sebuah perjuangan moral, dan sebuah instrumen strategis.
Di sinilah publik sering terjebak.
Kita dipaksa memilih:
jika mengkritik Iran, berarti pro-Zionis.
jika memuji Iran, berarti pembela Islam.
Padahal keduanya adalah jebakan berpikir.
Kebenaran tidak pernah sesederhana dua pilihan.
Konflik antara Iran dan Israel pada akhirnya bukan sekadar konflik agama. Ia adalah benturan dua proyek kekuasaan.
Israel berusaha mempertahankan dominasi regionalnya.
Iran berusaha membangun kekuatan tandingan.
Keduanya bergerak dengan logika negara: kepentingan, strategi, dan kekuatan.
Dan di tengah pertarungan itu, Palestina menjadi medan—sekaligus simbol.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi:
“Apakah Iran membela Palestina?”
Tetapi:
“Apakah kita mampu melihat konflik ini secara utuh, tanpa terjebak dalam propaganda salah satu pihak?”
Karena jika kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat, kita tidak sedang membela kebenaran.
Kita hanya sedang memilih kubu.
Pada akhirnya, Palestina tidak membutuhkan pengkultusan terhadap negara mana pun. Ia membutuhkan keadilan.
Dan keadilan tidak lahir dari fanatisme, tetapi dari keberanian untuk bersikap jernih—even ketika itu tidak populer.
Sebab dalam dunia yang penuh propaganda, bersikap adil adalah bentuk perlawanan yang paling langka.
Tabik


