Oleh: Rayhan Mubarok
Relawan Sekolah Master Indonesia
Khutbah Jumat di Al-Azhar: Puasa Bukan Sekadar Lapar, tetapi Jalan Menuju Ketakwaan
Kairo — Mimbar Masjid al-Azhar kembali menyuarakan pesan penting tentang makna puasa dalam kehidupan seorang Muslim. Dalam khutbah Jumat yang digelar pekan ini, Prof. Dr. Abdul Fattah Al-‘Awari, mantan Dekan Fakultas Ushuluddin Kairo dan anggota Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyah, menegaskan bahwa puasa merupakan sarana efektif dalam membentuk karakter, membersihkan jiwa, dan meneguhkan ketakwaan.
Mengangkat tema “Atsar Ash-Shiyam fi Tahdzib An-Nafs” (Pengaruh Puasa dalam Penyucian Jiwa), Syaikh Al-‘Awari menyampaikan bahwa Islam adalah agama yang menyeimbangkan pembinaan ruh dan jasad. Syariat, menurut beliau, tidak pernah dimaksudkan sebagai beban, melainkan sebagai proses pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya.
“Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya. Seluruh ketentuan syariat bertujuan untuk kemaslahatan dan penyucian jiwa,” ujarnya, mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an tentang kemudahan dalam beragama.
Beliau menjelaskan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan pengendalian diri. Ketika seorang Muslim mampu meninggalkan hal-hal yang halal dalam rentang waktu tertentu karena ketaatan kepada Allah, maka ia tengah dididik untuk lebih mudah meninggalkan yang haram sepanjang hidupnya.
Menurut Syaikh Al-‘Awari, puasa juga berfungsi sebagai perisai (junnah) sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ. Perisai tersebut melindungi manusia dari dorongan hawa nafsu dan godaan setan. “Puasa melatih kesabaran, keteguhan, serta kemampuan mengendalikan emosi,” katanya.
Beliau menambahkan, keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari menahan makan dan minum, tetapi dari kemampuan menjaga lisan, pandangan, dan perilaku. Mengutip sabda Nabi ﷺ, beliau mengingatkan bahwa Allah tidak membutuhkan lapar dan dahaga seseorang jika ia masih gemar berdusta dan melakukan keburukan.
Dalam khutbahnya, Syaikh Al-‘Awari juga menyinggung kondisi umat Islam saat ini yang dihadapkan pada berbagai tantangan pemikiran. Ia menyayangkan adanya pihak-pihak yang meremehkan Al-Qur’an dan Sunnah serta mencoba memisahkan umat dari sumber ajaran Islam.
“Puasa sejatinya mengembalikan manusia kepada nilai-nilai dasar keimanan dan ketakwaan. Dari sanalah lahir pribadi yang kokoh, berakhlak, dan mampu membangun peradaban,” tegasnya.
Beliau menutup khutbah dengan mengingatkan bahwa tujuan akhir puasa adalah takwa, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah: “La‘allakum tattaqûn” (agar kamu bertakwa). Ketakwaan, lanjutnya, menjadi benteng utama dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Dengan demikian, puasa bukan hanya ibadah ritual tahunan, melainkan madrasah pembentukan karakter yang dampaknya harus terasa dalam kehidupan sosial, moral, dan spiritual umat Islam.


